April 1st, 2005 by yudhest
Dalam persimpangan hidup
Ku’ harus tetap berjalan
Tuk’ akhiri hidup dengan kesempurnaan
Tanpa atau dengan hatimu
Segurat catatan tersimpang
Meski perih mengiris
Aku tetap berdansa diujung gelisah
Di iringi syahdu nafasmu
Bagai malam seribu bintang
‘Tuk sekedar menemani
Menemani mimpi yang s’lalu tersaji
Dalam relung hati
Ku rela kau lewati malam ini dengan siapa…..
Salahkah aku tuk’ gapai mimpiku
Merubah sejarah dan memutar balikkan fakta
Ku tak mengerti ……
Mengapa semuanya terjadi
Atau ku tertidur dalam kenangan
Ataukah aku seorang pemimpi
Tlah terlukis di langit
Bila’ku mencintaimu
Tuk’ jadikan persinggahan terakhirku
Kusadari kini angan bersamamu
Hanya mimpi
Menahan rasa inginku
Jangan katakan cinta
Bila semua menambah beban rasa
Sudah simpan saja sedihmu itu
Posted in Wacana | No Comments »
April 1st, 2005 by yudhest
Ketika jantung membeku
Sebutir bintang memancarkan sinar
Mengalirkan panas
Mencairkan hati yang sekian lama beku
Menghidupkan jiwa yang sekian lama mati
Nyala bintang semakin terang
Pintu hati tlah dibuka
Ajak bintang menari di angkasa
Awan langitpun terusir
Kilau hati dan bintang kian mempesona
Tibalah kini di ujung pagi
Bintangpun harus pergi
Meninggalkan hati
Haruskah hati mati dan membeku lagi
Hanya senyuman yang bisa ku lukiskan
Untuk menyapa hari - hariku
Hanya itu, hanya itu yang bisa kuberikan
Tapi tidak kujual senyumku
Sebenarnya apa yang telah ku rasakan saat ini
Kejam dan tajamnya perasaan ini
Hingga tak bisa ku rasakan lagi pedihnya
Hanya bisa kurasakan dan membisu
Gulana jiwa yang terlunta
Mati, Diam dan Membisu….
Posted in Wacana | 1 Comment »
April 1st, 2005 by yudhest
Ku’pejamkan mata sejenak rasa kan pedih
Yang semakin mendidih
Walaupun langit terasa mendung
Kian merasuk semakin dalam
Aku tersudut di dinding cinta
Tak bisa ku tolak makna dan artinya cinta
Berlari ataukah aku harus menghindar
Beri jawabnya selagi kau mampu tuk’ menjawabnya
Di bawah siraman air hujan tetapku berjalan
Yang tak pernah berhenti menghujaniku
Yang ada cuma tawa riang penuh kemenangan
Aku jadi ingat bekas luka di kaki dan tangan
Tapi harus kah aku berhenti berjalan
Nelangsa di pucuk padang rerumputan
Bergoyang ikuti irama asmara
Senantiasa terbelengu dalam iba bersemukan cinta
Dalam kibaran awan putih
Akhir…. yang indah
Posted in Wacana | No Comments »
April 1st, 2005 by yudhest
Kau masih tetap bertahan
Karna kenangan
Kusemaikan duka
Larut dipelukku
Cukup bagiku
Lewat warna sikap
Dan terbius aroma setia
Tercenung dalam gulana
Betapa kini ingin
Memberi setangkup kasih
Bertahan menanggung sepi
Haru kulihat pelangi
Tak kusadari mesti tergali kembali
Seketika kumerindu
Biar kurajut malam nanti
Bersama mimpi – mimpi
Tersembunyi tiada kunjung menghampiri
Sendiri mengayuh
Dan hanya bisa terdiam
Aku berkhayal seorang di ujung sana
Posted in Wacana | No Comments »
April 1st, 2005 by yudhest

Mungkin sekarang ini kau sedang tertawa
Mungkin sekarang ini mereka sedang tertawa
Mungkin sekarang ini beliau sedang tertawa
Dan mungkin sekarang ini dunia sedang tertawa
Tanpa tau apa yang harus ditertawakan
Sedangkan aku disini
Berjalan ketakutan di dunia ini
Tanpa ada yg menyinari langkahku dan menuntunku
Ku berjalan hingga meraba sela cinta
Mencoba tuk’ menggapai bintang harapan
Angin datang membisikkan
Sebuah desir – desir mimpi
Akan Legitnya dunia
Melukiskanmu lagi di dalam lembaran yang tersisa
Perlahan terbayang namun kian menghilang
Tanpa jiwa, kosong dan lenyap
Awal yang indah tlah’ menanti
Tak ingin terbungkus, terbungkus sepi yang kelam
Kupugar kembali hatiku tuk’ raih dirimu
Dalam hakikat fana
Ketika jiwamu, terpatri dalam kalbuku
Kaulah hidupku
Apa yang sedang kurasa
Apa yang sedang kau rasa
Adalah cinta yang …..
Posted in Wacana | No Comments »